Jumat, 28 Januari 2011

Lampu Lalu Lintas, Contoh Nyata Sebuah Pilihan

Friends, pastinya kalian paham betul donk sama yang namanya lampu lalu lintas, banyak yang bilang lampu merah (padahal aslikan ka nada 3 warna yah, merah, kuning, ijo..hehehhee…).
Merah artinya berhenti, kuning artinya siap-siap or hati-hati dan hijau artinya jalan, betul kan ?? Dan peraturan ini belum berubah or direvisi kan ??
But sekarang, coba liat di jalan, di setiap ada lampu merah, perhatiin deh sekarang klo lampunya warna merah banyak yang kendaraan yang justru melaju dengan cepat dan malahan klo lampunya ijo malahan banyak yang berhenti (yang paling sering angkot tuh !!). Aneh banget kan??? Hehehehehe…. Aneh bin ajaib memang.
Nah skarang gimana niy dengan kita, apakah kita tetep “normal” menaati peraturan yang berlaku atau jadi ikutan “aneh” dengan ngerubah sendiri peraturan itu.
Banyak banget alasan yang dipakai untuk membetulkan “keanehan” ini, yang paling sering sih karena nanggung dah nge-gas, ada juga yang bilang karena lagi buru-buru, ada juga yang punya alasan ngga ngeliat lampu udah merah, dan yang lebih parah karena ngga ngeliat ada polisi di situ (hayooo…). Padahal kita sebetulnya udah tau persis untuk apa lampu lalu lintas itu dipasang. Demi keselamatan kita sendiri lho.
Akibat paling fatal adalah kematian/kecelakaan, tapi ternyata ada akibat lainnya, yang cenderung jangka panjang, yaitu habit / kebiasaan. Satu dua kali melanggar lampu lalu lintas dan aman-aman ajah (maksudnya ngga terjadi kecelakaan atau ketangkep polisi) membuat kita akhirnya meremehkan lampu lalu lintas itu dan jadi “hobi” ngelanggar lampu itu bahkan peraturan-peraturan yang lain. Dan klo memang ini dah jadi “hobi” akibatnya klo di depan ada kendaraan yang berhenti karena taat, wuiihhhh tuh klakson bakalan berbunyi terus ditambah teriakan atau omelan supaya yang di depan ikutan ngelanggar tuh lampu atau di suruh maju dikit. Nah loh, jadi tambah aneh kan, orang yang taat dan “normal” disuruh ikutan bahkan dipaksa tuk jadi “aneh”.
Lagi-lagi aku mau bahas tentang sebuah pilihan. Pilihan untuk taat atau melanggarnya. Perkara besar dimulai dari hal-hal kecil.  Ketaatan paling nyata sangat terlihat di jalan raya. Lihat deh seberapa banyak orang yang tetap taat, orang yang mencoba untuk taat, dan orang tidak tertarik pada ketaatan.
Saat nulis ini, aku jadi mikir dan merenung nih berapa kali yah aku melanggar lampu lalu lintas hari ini (..hehehhe…) dan setelah dihitung-hitung, ternyata 1 kali, dengan alasan lampu merah-nya ngga efektif dan karena jalanan di depan kosong. Tetapi yah tetap aja salah, dah ngga boleh dibenarkan apalagi sampe jadi kebiasaan. Karena aku mau berusaha taat dari hal-hal sederhana dan sehari-hari seperti ini. Soalnya nantinya pasti ini akan berdampak ke kehidupan nantinya. Aku mau berusaha tuk ngga kompromi dengan yang namanya ketidaktaatan dengan alasan apapun.
Untuk ngga taat sangat gampang, bahkan saat ini berbagai kondisi mencoba membuatk kita ga taat. Tapi akan ada konsekuensi yang harus dihadapi di depan sana, ada sebuah akibat yang mau tidak mau harus kita terima. Dan itu semua akan membangun karakter kita menjadi pribadi yang selalu memberontak, selalu menyalahkan orang lain dan selalu ingin didahulukan (egois) dan banyak karakter buruk yang lain. Yang lebih parah adalah kita menyepelekan peraturan bahkan sang pembuat peraturan itu. Dan bisa-bisa kita menyepelekan dan meremehkan Tuhan lho.
Setia dengan perkara kecil, maksudnya adalah taat pada hal-hal sederhana contohnya dalam berlalu lintas. Kenapa ?? karena dari hal-hal kecil dan sederhana inilah yang nantinya akan membentuk menjadi seperti apakah kita ini, membentuk karakter kita, membentuk kepribadian kita dan akan membawa kita berjalan dalam rencana dan rancangaNya.
Dan lagi-lagi ini adalah sebuah pilihan. Tuhan udah membuat blue print kita serupa dan segambar dengan Dia, apa maksudnya?? Tuhan telah mengangkat kita menjadi ciptaan termulia, membuat kita sangat berharga dan merancangkan apa yang terbaik untuk kita, baik karakter, pribadi, masa depan bahkan kepastian hidup. Rancangan Tuhan adalah damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan, jadi yang terbaik itulah yang menjadi bagian kita.
Yang jadi pertanyaan, apakah kita akan memilih berjalan dalam rencanaNya atau menyimpang ke kanan dan ke kiri?
Dan sesungguhnya jawaban itu akan terlihat bukan dari perkataan kita, tetapi dari kesetiaan kita akan hal-hal kecil dan sederhana dalam hidup ini.
Sudahkan kamu memilih untuk taat hari ini ???

1 komentar:

  1. Q udah kok...he...
    bagus bngt tulisannya...

    BalasHapus